google.com, pub-4927078962349924, DIRECT, f08c47fec0942fa0
No Result
View All Result
Info Bhayangkara
  • Beranda
  • Giat Utama
  • Pelayanan
  • Inspirasi
  • Opini
  • Prestasi Polri
  • Beranda
  • Giat Utama
  • Pelayanan
  • Inspirasi
  • Opini
  • Prestasi Polri
No Result
View All Result
Info Bhayangkara
No Result
View All Result
Home Opini

Bertumbuh dari Budaya: Polantas Menyapa dan Melayani sebagai Local Wisdom Governance

Dody Frimansyah by Dody Frimansyah
2 Februari 2026
in Opini
0
Kakrolantas Polri , Polantas Menyapa
0
SHARES
6
VIEWS

Di berbagai negara maju, arah reformasi kepolisian menunjukkan kecenderungan yang serupa: menempatkan kepercayaan publik sebagai landasan utama keselamatan. Inovasi teknologi, sistem penegakan hukum modern, serta pemanfaatan data dan kecerdasan buatan menjadi instrumen penting dalam menjaga keamanan publik. Namun Indonesia menempuh pendekatan yang berbeda. Alih-alih sekadar mengadopsi praktik global, Indonesia memilih mengolahnya melalui nilai-nilai budaya lokal yang telah hidup dan tumbuh di tengah masyarakat.

Melalui program Polantas Menyapa dan Melayani 2026, Korps Lalu Lintas Polri di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum. memperkenalkan sebuah pendekatan yang kini dikenal sebagai local wisdom governance. Pendekatan ini merepresentasikan tata kelola keselamatan lalu lintas yang tidak hanya maju secara konsep, tetapi juga nyata dalam praktik sehari-hari. Nilai menyapa, empati, gotong royong, serta orientasi pelayanan ditempatkan sebagai wajah negara di ruang publik.

Dalam kerangka ini, kehadiran Polantas di jalan raya tidak lagi dimaknai sebatas pengatur arus lalu lintas. Polantas hadir sebagai penjaga rasa aman, jembatan sosial antara negara dan warga, sekaligus simbol negara yang humanis. Jalan raya dipandang bukan hanya sebagai ruang mobilitas, melainkan ruang peradaban—tempat nilai etika, kepedulian, dan keselamatan dirawat secara kolektif.

Dari Inspirasi Global ke Konteks Lokal

Perkembangan global menunjukkan adanya transformasi dalam pendekatan keselamatan lalu lintas. Jepang dikenal melalui praktik community policing dengan sistem koban yang menekankan kedekatan polisi dan masyarakat. Inggris mengembangkan neighborhood policing, Amerika Serikat menguatkan prinsip procedural justice, sementara Swedia dengan Vision Zero menegaskan bahwa setiap korban jiwa di jalan raya adalah sesuatu yang tidak dapat diterima.

Meski demikian, Korps Lalu Lintas Polri tidak menyalin pendekatan-pendekatan tersebut secara utuh. Nilai-nilai global tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa sosial yang akrab dengan karakter masyarakat Indonesia.

“Menyapa” dimaknai sebagai sarana membangun kedekatan dan komunikasi kemanusiaan. Sementara “melayani” ditegaskan sebagai bentuk pengabdian negara kepada masyarakat. Inilah yang menjadi pembeda utama: Indonesia menghadirkan pendekatan yang modern, tetapi tetap berpijak pada akar budaya lokal.

“Banyak negara membangun keselamatan lalu lintas dengan pendekatan berbasis kepercayaan. Polantas Menyapa dan Melayani adalah cara Indonesia menerjemahkan praktik global tersebut ke dalam nilai budaya kita sendiri—menyapa, merangkul, dan melayani,” ujar Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho, S.H., M.Hum.
Ia menambahkan, “Kami tidak menyalin praktik luar negeri secara mentah. Kami belajar dari pengalaman dunia, lalu mengembangkannya agar selaras dengan karakter masyarakat Indonesia.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia tidak sekadar mengikuti arus global, tetapi turut memberi warna dalam diskursus reformasi kepolisian di tingkat internasional.

Dalam kerangka Polantas Menyapa dan Melayani, keselamatan lalu lintas tidak hanya bertumpu pada penegakan hukum dan teknologi. Kepercayaan publik ditempatkan sebagai fondasi utama.

Sapaan menjadi bahasa kemanusiaan yang mampu meruntuhkan sekat psikologis antara aparat dan warga. Sementara pelayanan menegaskan bahwa kehadiran Polantas bertujuan membantu, memberi solusi, serta melindungi keselamatan pengguna jalan—bukan menciptakan rasa takut.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip procedural justice, di mana kepatuhan tumbuh bukan karena ancaman sanksi, melainkan karena masyarakat merasa diperlakukan secara adil, dihargai, dan dilibatkan. Di ruang publik seperti jalan raya, kepercayaan inilah yang membuat pesan keselamatan lebih mudah diterima dan berdampak jangka panjang.

Dalam masyarakat Indonesia yang beragam dan dinamis, pendekatan berbasis relasi sosial terbukti lebih relevan dibandingkan pendekatan koersif semata. Keselamatan lalu lintas dipahami sebagai tanggung jawab bersama, bukan kewajiban sepihak.

Polantas sebagai Representasi Negara yang Humanis

Jalan raya merupakan ruang publik yang paling sering mempertemukan masyarakat dengan negara. Di sanalah kehadiran aparat dirasakan secara langsung. Melalui Polantas Menyapa dan Melayani 2026, Polri membangun narasi baru: negara hadir dengan sikap yang ramah, responsif, dan dapat dipercaya.

“Polantas hadir bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memastikan setiap warga dapat sampai ke tujuan dengan selamat,” tegas Irjen Agus Suryonugroho.

Pernyataan tersebut mencerminkan pergeseran paradigma dari force-based policing menuju service-oriented policing, sebuah kecenderungan global dalam reformasi kepolisian modern. Penegakan hukum tetap dijalankan secara tegas, namun disertai empati dan komunikasi yang manusiawi.

Kekuatan lain dari program ini terletak pada pelibatan komunitas pengemudi ojek online (ojol) sebagai mitra strategis. Para pengemudi ojol dipandang sebagai aktor sosial penting di jalan raya, dengan pengalaman lapangan, jejaring luas, serta kepekaan tinggi terhadap dinamika lalu lintas.

Kegiatan dialog dan pertemuan Kakorlantas Polri bersama komunitas ojol di berbagai daerah—mulai dari Yogyakarta, Medan, Surabaya, Kalimantan Timur, Jawa Barat, hingga Bali—menjadi wujud konkret dari pendekatan kolaboratif ini.

“Kami ingin para pengemudi merasa dilibatkan, bukan diawasi. Keselamatan tidak bisa dibangun oleh negara sendirian,” ujar Kakorlantas Polri.

Pendekatan ini selaras dengan konsep co-production of safety, yaitu keselamatan yang dibangun bersama antara negara dan masyarakat. Di Indonesia, konsep ini dijalankan dengan sentuhan lokal yang inklusif dan berkeadilan, berlandaskan semangat gotong royong.

Dengan menjadikan masyarakat sebagai mitra, Polantas memperkuat modal sosial dan menumbuhkan budaya tertib berlalu lintas yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan.

Polantas Menyapa dan Melayani 2026 menghadirkan cara pandang baru: jalan raya sebagai ruang peradaban. Jalan tidak semata dipahami sebagai infrastruktur fisik, melainkan ruang sosial tempat nilai saling menghormati, disiplin, dan kepedulian diuji setiap hari.

Interaksi sederhana—sapaan Polantas, dialog singkat dengan pengemudi, atau bantuan dalam situasi darurat—memiliki pengaruh besar terhadap persepsi publik tentang negara. Dari interaksi inilah kepercayaan dibangun secara perlahan namun berkelanjutan.

Keselamatan lalu lintas pun ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: pembangunan peradaban yang beradab dan berkeadilan.

Reformasi yang Menjadi Budaya

Tantangan utama reformasi kepolisian di banyak negara adalah keberlanjutan. Tidak sedikit program berhenti sebagai proyek jangka pendek. Polantas Menyapa dan Melayani dirancang berbeda—sebagai warisan nilai dan budaya organisasi.

“Yang kami bangun bukan sekadar program, tetapi cara pandang. Cara bagaimana Polantas memandang masyarakat dan memaknai tugasnya,” ujar Irjen Agus Suryonugroho.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa modernisasi Polri tidak harus mengorbankan identitas nasional. Justru, nilai-nilai budaya lokal menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan kepolisian yang adaptif, relevan, dan dipercaya.

Di tengah kompleksitas lalu lintas dan meningkatnya mobilitas masyarakat, Polantas Menyapa dan Melayani 2026 menjadi contoh nyata bahwa reformasi kepolisian dapat dijalankan secara modern, humanis, dan kontekstual.

Indonesia tidak tertinggal dalam praktik global. Indonesia belajar dari pengalaman dunia, lalu menumbuhkannya melalui budaya sendiri. Dengan menjadikan kepercayaan publik sebagai fondasi, kolaborasi sebagai strategi, dan empati sebagai bahasa pelayanan, Polantas menghadirkan pendekatan keselamatan lalu lintas yang khas Indonesia—berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada masa depan.

Sumber : korlantas polri

Tags: community policing Indonesiajalan raya ruang peradabankepercayaan publik Polrikeselamatan berkeadilan.keselamatan lalu lintas nasionalKorlantas Polri 2026local wisdom governanceojol mitra PolantasPelayanan Publik PolriPolantas humanisPolantas Menyapa dan MelayaniPolri Presisiprocedural justice policingreformasi kepolisian Indonesiatrust-based policing
Previous Post

ETLE Drone Patrol Presisi di Cibubur Tangkap 30 Pelanggar Lalu Lintas

Next Post

Korlantas Polri Optimalkan ETLE Speed Camera untuk Penegakan Hukum Lalu Lintas di Tol DIY

Next Post
Korlantas Perkuat Penegakan Hukum dengan Optimalisasi ETLE Speed Camera di Ruas Tol DIY

Korlantas Polri Optimalkan ETLE Speed Camera untuk Penegakan Hukum Lalu Lintas di Tol DIY

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

penyerahan kendaraan Patroli Jalan Raya Operasi Ketupat 2026

Kakorlantas Terima 15 Unit Kendaraan PJR dari PT Jasa Marga untuk Dukung Operasi Ketupat 2026

by Geralda Talitha
6 Februari 2026
0

Surabaya – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho S.H, M.Hum., menerima secara simbolis 15 unit...

Polantas Menyapa

Irjen Agus Suryonugroho Bangun Polantas Menyapa dan Melayani

by Dody Frimansyah
6 Februari 2026
0

Kepemimpinan di kepolisian tidak hanya diukur dari seberapa banyak kebijakan diterbitkan, tetapi dari warisan nilai yang ditinggalkan. Di sinilah makna...

pengawasan program bantuan pemerintah oleh Polri di NTT

Wakapolri Instruksikan Pengawasan Ketat Program Bantuan Pemerintah Pasca Tragedi Siswa di NTT

by Dian Purwanto
6 Februari 2026
0

Jakarta – Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Dedi Prasetyo menegaskan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan program bantuan pemerintah...

Kakorlantas Polri Tinjau Rest Area KM 66 Tol Pandaan

Kakorlantas Polri Tinjau Kesiapan Rest Area KM 66 Tol Pandaan Jelang Mudik Lebaran 2026

by Dody Frimansyah
6 Februari 2026
0

Malang – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Drs. Agus Suryonugroho S.H, M.Hum., meninjau kondisi Rest Area KM...

Kakorlantas Sambut Komunitas Ojol Kota Batu, Dorong Kolaborasi dan Keselamatan Lalu Lintas

Kakorlantas Sambut Komunitas Ojol Kota Batu, Dorong Kolaborasi dan Keselamatan Lalu Lintas

by Dody Frimansyah
6 Februari 2026
0

BATU – Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol. Agus Suryonugroho S.H., M.Hum., melakukan kunjungan ke Pos Ketan Legenda...

Dirkamsel Korlantas Polri Brigjen Pol Prianto.

Korlantas Polri Tinjau Jalur Pantura–Pansela Jelang Mudik Lebaran 2026

by Dody Frimansyah
5 Februari 2026
0

Tegal – Korps Lalu Lintas Polri bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan peninjauan langsung jalur Pantai Utara (Pantura) dan Pantai Selatan...

Polantas dan Ojol Kamtibmas

Polantas dan Komunitas Membangun Ekosistem Jalan Raya

by Dody Frimansyah
5 Februari 2026
0

Keselamatan lalu lintas tidak pernah lahir dari satu pihak saja. Ia tumbuh dari kolaborasi, kepercayaan, dan kesadaran kolektif. Inilah filosofi...

bus SIM Keliling untuk pelayanan SIM di Aceh Tamiang pascabencana banjir bandang

Korlantas Polri Salurkan Dua Bus SIM Keliling untuk Aceh Tamiang Pascabencana

by Dian Purwanto
4 Februari 2026
0

Jakarta – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyalurkan bantuan berupa dua unit bus SIM Keliling kepada Polres Aceh Tamiang sebagai...

Polantas Menyapa

Polantas Menyapa, Strategi Humanis Jaga Keselamatan Lalu Lintas

by Dody Frimansyah
4 Februari 2026
0

Reformasi kepolisian sering dibicarakan di ruang kebijakan, seminar, dan dokumen strategis. Namun bagi Korps Lalu Lintas Polri, reformasi justru dimulai...

Korlantas Serahkan ETLE Mobile Handheld, Perkuat Penegakan Hukum di Jateng 1

Korlantas Polri Serahkan ETLE Mobile ke Polda Jawa Tengah

by Dody Frimansyah
4 Februari 2026
0

Jakarta – Korps Lalu Lintas Polri menyerahkan perangkat Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) Mobile Handheld kepada jajaran Direktorat Lalu Lintas...

  • Kebijakan Privasi
  • Tentang Kami
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Disclaimer

© 2021 Copyright Bhayangkarakita Team All Rights Reserved

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Giat Utama
  • Pelayanan
  • Inspirasi
  • Opini
  • Prestasi Polri

© 2021 Copyright Bhayangkarakita Team All Rights Reserved