Makasar – Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Pusdokkes) Polri telah mengerahkan tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan data dalam rangka mengidentifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang terjadi di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Provinsi Sulawesi Selatan.
Kepala Biro Kedokteran Kepolisian Pusdokkes Polri Brigjen Pol dr. Nyoman Eddy Purnama menjelaskan bahwa proses identifikasi jenazah dilakukan dengan prosedur standar internasional Disaster Victim Identification (DVI). “Secara standar, kami menggunakan prosedur yang baku. Karena ada perbandingan dengan kejadian lain, kami menggunakan yang namanya standar DVI, yaitu standar internasional,” kata Nyoman pada Selasa malam di Gedung Biddokes Polda Sulawesi Selatan, Makassar.
Dalam konferensi pers tentang serah terima jenazah satu korban kecelakaan di Posko DVI Biddokes Polda Sulawesi Selatan, dia memaparkan bahwa pihak kepolisian telah mengumpulkan data antemortem dari 10 anggota keluarga korban. Selain itu, tim yang terdiri dari dua dokter, tiga dokter forensik, seorang dokter radiologi, dan staf pendukung lainnya telah dikerahkan untuk mengumpulkan data postmortem di lokasi kejadian.
“Seluruh data tersebut akan kami kumpulkan dan lakukan proses rekonsiliasi, yaitu mencocokkan data antemortem dan postmortem,” jelas Nyoman.
Nyoman menegaskan bahwa pihak kepolisian bekerja dengan sangat hati-hati untuk menghindari kesalahan dalam pengembalian jenazah kepada keluarga. “Kami tidak boleh salah dalam mengembalikan jenazah kepada keluarganya. Ketepatan adalah yang utama karena proses ini membutuhkan ketelitian dan tentu memerlukan waktu,” tambahnya.
Dia juga meminta kesabaran dari masyarakat dan semua pihak terkait. “Nantinya, bersama Karodokpol dan Kabid Biddokkes, kami akan memberikan keterangan resmi berdasarkan data yang valid setelah seluruh proses pemeriksaan selesai,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Humas Polda Sulawesi Selatan Kombes Pol Didik Supranoto mengungkapkan bahwa tim DVI Polda telah menerima satu kantong jenazah korban dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas). “Saat ini sedang dalam proses pemeriksaan atau identifikasi. Kami belum dapat memberikan identitas jelas karena secara fisik jenazah tersebut perempuan, dan terdapat dua awak pesawat perempuan,” kata Didik.
Selain itu, petugas telah mengevakuasi dua jenazah korban kecelakaan, satu laki-laki dan satu perempuan, dari lokasi kejadian. Berdasarkan data manifes maskapai Indonesia Air Transport, pesawat tersebut hilang kontak dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1), dengan tujuh kru dan tiga penumpang.
Upaya pencarian delapan korban lainnya masih terus dilakukan oleh petugas di lapangan.











